Home / Kabar Sekolah / Madrasia Luncurkan Program Literasi Digital, Bekali Siswa dan Orang Tua Hadapi Era Digital

Madrasia Luncurkan Program Literasi Digital, Bekali Siswa dan Orang Tua Hadapi Era Digital

Sleman, Yogyakarta — Perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Siswa kini dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan, mengikuti pembelajaran interaktif, serta berkomunikasi dan berkolaborasi dengan lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam hal penggunaan gawai, keamanan internet, dan kemampuan memilah informasi.

Menjawab tantangan tersebut, Madrasia meluncurkan program literasi digital yang melibatkan siswa dan orang tua secara bersamaan. Program ini dirancang untuk membantu keluarga memahami cara menggunakan teknologi secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Peluncuran program dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan edukatif yang dikemas dengan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga membantu orang tua dalam mendampingi anak ketika menggunakan internet di rumah.

Menjawab Tantangan Penggunaan Teknologi

Kehadiran teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Gawai digunakan untuk belajar, mencari informasi, menonton video, bermain gim, hingga berkomunikasi dengan teman.

Di satu sisi, kemampuan menggunakan teknologi menjadi salah satu kecakapan penting yang perlu dimiliki siswa. Mereka perlu mengetahui bagaimana memanfaatkan internet untuk mendapatkan pengetahuan, menyelesaikan tugas, mengembangkan kreativitas, dan membangun komunikasi yang positif.

Di sisi lain, penggunaan teknologi tanpa pendampingan dapat menimbulkan berbagai persoalan. Salah satunya adalah penggunaan gawai secara berlebihan. Waktu yang terlalu banyak dihabiskan di depan layar dapat membuat anak mengurangi aktivitas fisik, waktu bersama keluarga, membaca buku, maupun interaksi sosial secara langsung.

Selain persoalan screen time, anak juga dapat berhadapan dengan berbagai risiko di internet, seperti penipuan, perundungan daring, konten yang tidak sesuai usia, pencurian data pribadi, serta informasi yang tidak benar.

Karena itu, Madrasia memandang literasi digital sebagai kemampuan yang perlu dibangun bersama antara sekolah dan keluarga.

“Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memahami kapan teknologi digunakan, untuk tujuan apa, dan bagaimana menjaga diri ketika berada di ruang digital,” ujar Raka Pradipta, S.Pd., salah satu pemateri dalam program tersebut.

Menurutnya, pendampingan orang tua menjadi bagian penting karena kebiasaan penggunaan teknologi tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Peluncuran Diisi Workshop dan Edukasi Digital

Peluncuran program literasi digital diawali dengan workshop yang mempertemukan siswa dan orang tua dalam satu rangkaian kegiatan. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai aspek penggunaan teknologi yang aman dan bertanggung jawab.

Sesi pertama membahas keamanan internet. Dalam sesi ini, siswa dan orang tua diperkenalkan pada langkah-langkah sederhana untuk melindungi akun dan data pribadi.

Peserta diajak memahami pentingnya menggunakan kata sandi yang kuat, tidak membagikan informasi pribadi kepada orang yang tidak dikenal, serta berhati-hati ketika menerima tautan atau pesan dari sumber yang tidak diketahui.

Materi juga memberikan contoh situasi yang mungkin ditemui anak ketika menggunakan internet. Dengan contoh tersebut, peserta diharapkan dapat mengenali tindakan yang aman dan mengetahui kapan harus meminta bantuan kepada orang tua atau guru.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi mengenai etika bermedia sosial. Siswa diajak memahami bahwa apa yang ditulis atau dibagikan di internet dapat memberikan dampak kepada orang lain.

Peserta diajarkan untuk berpikir sebelum mengunggah sesuatu, menghormati orang lain dalam percakapan daring, tidak menyebarkan foto atau informasi orang lain tanpa izin, serta tidak ikut melakukan perundungan di media sosial.

Siswa dan Orang Tua Belajar Bersama

Program perdana ini ditujukan kepada siswa kelas VII dan VIII bersama orang tua atau wali mereka. Pelibatan orang tua secara langsung menjadi salah satu karakter utama program.

Sekolah menyadari bahwa edukasi digital akan lebih efektif apabila siswa mendapatkan pesan yang konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Karena itu, orang tua tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi juga mendapatkan materi yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga.

Dalam sesi diskusi, orang tua diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai kebiasaan anak menggunakan gawai. Beberapa topik yang dibahas antara lain bagaimana menetapkan aturan penggunaan ponsel, bagaimana mengajak anak mengurangi waktu layar tanpa konflik, serta bagaimana mengetahui aktivitas digital anak tanpa menghilangkan kepercayaan.

Sekolah juga mengingatkan bahwa pendampingan digital tidak selalu berarti melarang anak menggunakan teknologi. Pendekatan yang lebih penting adalah membantu anak memahami cara menggunakan teknologi dengan bijak.

“Tujuan kita bukan menjauhkan anak dari gadget. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Yang perlu kita bangun adalah kemampuan anak untuk menggunakannya secara sehat, aman, dan bertanggung jawab,” jelas Raka Pradipta, S.Pd.

Mengenal Screen Time yang Sehat

Salah satu materi yang mendapatkan perhatian besar dari peserta adalah screen time sehat atau pengaturan waktu penggunaan perangkat digital.

Dalam sesi tersebut, siswa dan orang tua diajak memahami bahwa penggunaan gawai sebaiknya tidak mengganggu kebutuhan dasar anak, seperti tidur, belajar, aktivitas fisik, ibadah, makan bersama keluarga, dan interaksi sosial.

Orang tua juga diberikan contoh cara membuat kesepakatan penggunaan gawai di rumah. Misalnya, menentukan waktu tertentu untuk belajar menggunakan perangkat digital, waktu bermain, serta waktu tanpa gawai menjelang tidur.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah penggunaan teknologi dari sekadar kebiasaan menjadi aktivitas yang lebih terarah.

Sekolah juga mendorong orang tua untuk memberikan contoh. Anak akan lebih mudah mengikuti aturan apabila melihat anggota keluarga lainnya juga mampu mengatur penggunaan perangkat digital.

Belajar Mengenali Hoaks

Kemampuan memeriksa informasi menjadi materi penting lainnya dalam program literasi digital. Siswa saat ini dapat menemukan ribuan informasi hanya dalam beberapa detik melalui mesin pencari, media sosial, maupun aplikasi pesan.

Namun, tidak semua informasi tersebut benar.

Dalam sesi verifikasi informasi, peserta diajak mengenali ciri-ciri informasi yang perlu dicurigai. Beberapa di antaranya adalah judul yang terlalu provokatif, ajakan untuk segera menyebarkan informasi, sumber yang tidak jelas, serta klaim yang tidak disertai bukti.

Peserta juga diperkenalkan pada kebiasaan sederhana sebelum membagikan informasi, yaitu berhenti sejenak, membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber, membandingkannya dengan sumber lain, dan memastikan tanggal maupun konteks informasi tersebut.

“Anak-anak perlu dibiasakan untuk tidak langsung percaya hanya karena sebuah informasi terlihat meyakinkan atau dikirim oleh orang yang mereka kenal. Kebiasaan memeriksa sumber adalah bagian penting dari kecakapan digital,” tutur Nadia Kirana, M.Pd., pemateri lainnya.

Menurutnya, kemampuan tersebut juga penting bagi orang tua karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar membentuk kebiasaan menggunakan informasi.

Akan Menjadi Program Rutin Sekolah

Madrasia berencana menjadikan literasi digital sebagai program yang dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah tidak ingin kegiatan ini berhenti pada satu kali workshop, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari pembinaan siswa.

Ke depan, kegiatan dapat dilaksanakan secara berkala dengan tema yang berbeda sesuai dengan perkembangan kebutuhan siswa. Materi dapat mencakup keamanan akun, privasi digital, penggunaan media sosial, kecerdasan buatan, etika komunikasi daring, hingga pemanfaatan internet untuk kegiatan belajar.

Sekolah juga membuka peluang untuk melibatkan orang tua dalam kegiatan-kegiatan lanjutan. Dengan demikian, orang tua dapat terus memperoleh informasi mengenai perkembangan teknologi dan tantangan yang mungkin dihadapi anak.

Kepala Madrasia, Drs. H. Abdullah Mansur, M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama antara sekolah dan keluarga menjadi kunci dalam membangun kebiasaan digital yang sehat.

“Literasi digital adalah bagian dari pendidikan anak pada masa sekarang. Kami berharap sekolah dan orang tua dapat berjalan bersama agar teknologi benar-benar menjadi sarana belajar dan berkembang, bukan justru menjadi sumber masalah bagi anak,” ungkapnya.

Peluncuran program literasi digital ini menjadi langkah awal Madrasia dalam memperkuat pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan membekali siswa sekaligus orang tua, sekolah berharap keluarga dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman, sehat, dan produktif.

Pada akhirnya, kecakapan digital bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan perangkat. Lebih dari itu, kecakapan digital mencakup kemampuan berpikir kritis, menjaga keamanan diri, menghormati orang lain, mengendalikan penggunaan teknologi, serta bertanggung jawab terhadap informasi yang dikonsumsi maupun dibagikan.

Melalui program yang direncanakan berlangsung secara rutin tersebut, Madrasia berharap siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya.

Avatar ThemeBagus Studio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *