Home / Prestasi / Tim Robotik Madrasia Wakili Kabupaten di Kompetisi Sains Tingkat Provinsi

Tim Robotik Madrasia Wakili Kabupaten di Kompetisi Sains Tingkat Provinsi

Sleman, Yogyakarta — Kabar membanggakan datang dari Madrasia. Tim robotik sekolah berhasil meraih kesempatan untuk mewakili Kabupaten Sleman dalam kompetisi sains tingkat provinsi setelah melalui rangkaian seleksi yang cukup ketat. Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting bagi pengembangan minat siswa di bidang teknologi sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran STEM dapat tumbuh melalui pengalaman langsung, kreativitas, dan kerja tim.

Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Para siswa telah menjalani proses latihan, perancangan, pengujian, dan perbaikan robot selama beberapa pekan. Mereka harus menghadapi berbagai persoalan teknis, mulai dari sensor yang tidak membaca objek dengan tepat, robot yang keluar jalur, hingga program yang belum berjalan sesuai rancangan.

Namun, berbagai kendala tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajar. Bagi para anggota tim, robotik bukan sekadar kegiatan merakit mesin atau menulis kode. Mereka belajar bagaimana mengubah sebuah gagasan menjadi sistem yang dapat bekerja, kemudian memperbaikinya ketika terjadi kesalahan.

Berawal dari Ekstrakurikuler Robotik

Ekstrakurikuler robotik Madrasia mulai dikembangkan pada 2023 sebagai wadah bagi siswa yang memiliki ketertarikan terhadap teknologi, elektronika, pemrograman, dan rekayasa sederhana.

Pada awal pembentukannya, kegiatan robotik hanya diikuti oleh beberapa siswa yang memiliki minat terhadap teknologi. Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta berkembang dan saat ini terdapat sekitar 18 siswa yang mengikuti kegiatan secara aktif.

Para anggota tidak semuanya memiliki kemampuan yang sama. Sebagian lebih tertarik pada pemrograman, sementara siswa lainnya menikmati proses merakit komponen dan mengembangkan desain robot.

Perbedaan minat tersebut justru menjadi kekuatan tim. Dalam sebuah proyek robot, siswa perlu bekerja dalam beberapa peran sekaligus, mulai dari perancang mekanik, programmer, penguji, hingga pencatat hasil pengembangan.

Guru pembina, Bima Pratama, S.Kom., mengatakan bahwa salah satu tujuan ekstrakurikuler tersebut adalah memperkenalkan teknologi melalui kegiatan yang menyenangkan dan aplikatif.

“Robotik memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dari masalah nyata. Mereka membuat sesuatu, mengujinya, menemukan kesalahan, lalu mencoba memperbaikinya. Proses seperti ini sangat baik untuk melatih logika, kreativitas, ketelitian, dan ketekunan,” ujarnya.

Robot Misi Penjelajah Menjadi Andalan

Dalam kompetisi tingkat kabupaten, tim Madrasia membawa sebuah robot penjelajah otomatis yang dirancang untuk menyelesaikan sejumlah misi di arena pertandingan.

Robot tersebut menggunakan kombinasi sensor, motor penggerak, dan sistem kendali berbasis mikrokontroler. Tantangan utama dalam kompetisi adalah membuat robot mampu bergerak mengikuti jalur, mendeteksi objek tertentu, melewati area yang telah ditentukan, serta menyelesaikan misi sesuai aturan dalam batas waktu.

Setiap detail harus diperhitungkan. Kecepatan motor yang terlalu tinggi dapat membuat robot kehilangan arah. Sebaliknya, kecepatan yang terlalu rendah dapat membuat waktu penyelesaian menjadi lebih panjang.

Sensor juga harus dikalibrasi dengan baik. Perbedaan intensitas cahaya di arena pertandingan dapat memengaruhi kemampuan sensor dalam membaca garis atau objek.

Para siswa harus memikirkan semua kemungkinan tersebut sebelum robot dinyatakan siap bertanding.

“Robot yang kami buat sebenarnya terlihat sederhana, tetapi ketika masuk arena ternyata banyak hal yang harus diperhatikan. Sedikit perubahan posisi sensor atau kecepatan motor bisa membuat gerakannya berbeda,” kata Faris, salah seorang anggota tim.

Latihan Sore hingga Akhir Pekan

Menjelang kompetisi, intensitas latihan tim meningkat. Selain jadwal ekstrakurikuler rutin, para anggota tim menjalani latihan tambahan sekitar dua hingga tiga jam setiap sesi.

Latihan biasanya dilakukan setelah kegiatan pembelajaran selesai. Pada akhir pekan, tim juga beberapa kali melakukan simulasi pertandingan untuk menguji robot dalam kondisi yang menyerupai arena kompetisi.

Setiap sesi latihan memiliki fokus berbeda.

Pada satu sesi, siswa melakukan pengujian sensor. Sesi berikutnya digunakan untuk memperbaiki program. Ada pula latihan khusus untuk menguji ketepatan robot ketika harus berbelok atau menjalankan misi tertentu.

Proses tersebut membuat siswa memahami pentingnya pengujian berulang dalam pengembangan teknologi.

Robot tidak selalu berhasil dalam percobaan pertama. Bahkan, ada kalanya sistem yang sebelumnya berjalan dengan baik tiba-tiba mengalami gangguan setelah salah satu komponen diganti.

Alih-alih menyerah, siswa mencatat masalah tersebut dan mencari penyebabnya.

Menghadapi Tantangan Teknis

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah menjaga agar robot tetap stabil ketika bergerak di lintasan.

Pada tahap awal latihan, robot beberapa kali keluar dari jalur ketika melakukan tikungan. Setelah dilakukan pemeriksaan, siswa menemukan bahwa pengaturan kecepatan motor dan pembacaan sensor perlu diperbaiki.

Mereka kemudian melakukan sejumlah percobaan untuk menemukan konfigurasi yang paling sesuai.

Masalah lain muncul pada sistem pendeteksi objek. Robot terkadang membaca objek pada jarak yang berbeda dari perkiraan.

Guru pembina kemudian mengarahkan siswa untuk tidak hanya mengganti komponen, tetapi memahami terlebih dahulu penyebab masalah.

“Dalam robotik, kami tidak ingin siswa hanya bertanya, ‘Bagian mana yang harus diganti?’ Kami ingin mereka belajar bertanya, ‘Mengapa ini tidak bekerja?’ Dari pertanyaan itulah proses berpikir ilmiah dimulai,” jelas Bima.

Pendekatan tersebut membuat latihan menjadi lebih dari sekadar persiapan lomba. Siswa belajar melakukan diagnosis masalah dan mengambil keputusan berdasarkan hasil pengujian.

Lolos Seleksi Tingkat Kabupaten

Perjalanan menuju kompetisi provinsi dimulai dari seleksi tingkat kabupaten. Tim Madrasia harus menunjukkan kemampuan robot dalam menyelesaikan misi sesuai ketentuan kompetisi.

Pada babak seleksi, setiap tim diberikan kesempatan untuk menjalankan robot di arena. Penilaian dilakukan berdasarkan ketepatan menyelesaikan misi, waktu, serta sejumlah aspek teknis yang telah ditentukan panitia.

Pada percobaan pertama, robot Madrasia sempat mengalami kendala ketika memasuki salah satu bagian lintasan. Sistem sensor tidak membaca jalur dengan sempurna sehingga robot keluar sedikit dari garis.

Tim kemudian melakukan evaluasi sebelum kesempatan berikutnya.

Pada percobaan kedua, robot tampil lebih stabil. Beberapa misi berhasil diselesaikan dengan baik sehingga tim mampu mengumpulkan poin yang cukup untuk menempati posisi yang membawa mereka lolos sebagai wakil Kabupaten Sleman ke tingkat provinsi.

Pengumuman tersebut langsung disambut gembira oleh siswa dan guru pembina.

“Ketika nama Madrasia disebut sebagai salah satu tim yang lolos, rasanya semua latihan terbayar. Kami tahu masih banyak yang harus diperbaiki, tetapi kami senang karena kerja keras kami mendapat hasil,” ungkap Faris.

Dari Kompetisi ke Pembelajaran STEM

Keberhasilan tim robotik juga menjadi bagian dari upaya Madrasia mengembangkan pendidikan berbasis STEM, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan sains, teknologi, engineering atau rekayasa, dan matematika.

Melalui robotik, siswa dapat melihat hubungan berbagai bidang tersebut dalam satu proyek.

Pemrograman membutuhkan logika. Perancangan mekanik membutuhkan pemahaman tentang bentuk dan gerak. Sensor berkaitan dengan konsep sains dan teknologi, sedangkan pengukuran serta perhitungan membutuhkan kemampuan matematika.

Kepala Madrasia, Drs. H. Abdullah Mansur, M.Pd., menyampaikan bahwa sekolah berkomitmen memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat di bidang teknologi.

“Sekolah perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba, membuat, dan menemukan. Bidang STEM sangat penting karena anak-anak tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu belajar memahami cara kerja teknologi dan menciptakan solusi dengan teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan robotik juga sejalan dengan semangat pembelajaran yang mendorong siswa menjadi lebih kreatif dan mampu memecahkan masalah.

Target di Tingkat Provinsi

Setelah memastikan tempat di kompetisi provinsi, tim Madrasia kembali melakukan evaluasi. Robot yang digunakan pada tingkat kabupaten akan terus dikembangkan agar lebih stabil dan mampu menghadapi tantangan yang lebih kompleks.

Para siswa menargetkan dapat memberikan penampilan terbaik dan masuk dalam jajaran tim dengan perolehan nilai tertinggi.

Namun, guru pembina mengingatkan agar siswa tidak hanya berfokus pada hasil akhir.

“Target tentu ada. Kami ingin mereka mendapatkan prestasi terbaik. Tetapi yang lebih penting adalah mereka berani menghadapi tantangan dan mampu menunjukkan hasil kerja tim dengan percaya diri,” kata Bima.

Bagi anggota tim, kesempatan tampil di tingkat provinsi sudah menjadi pencapaian tersendiri.

“Kami ingin membuktikan bahwa robot yang kami buat bisa menyelesaikan misi dengan baik. Kami juga ingin belajar dari tim-tim lain yang mungkin punya desain dan strategi berbeda,” ujar Faris.

Dukungan Sekolah untuk Generasi Teknologi

Madrasia berencana terus mengembangkan fasilitas dan program yang mendukung kegiatan STEM. Sekolah melihat robotik sebagai salah satu bidang yang dapat menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengenal dunia teknologi secara lebih mendalam.

Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada kompetisi. Siswa juga dapat mengembangkan proyek-proyek sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan lingkungan sekolah dan masyarakat.

Misalnya, robot sederhana untuk membantu pekerjaan tertentu, sistem otomatisasi, alat pemantau lingkungan, atau proyek berbasis Internet of Things.

Dengan demikian, pengalaman mengikuti kompetisi dapat menjadi langkah awal untuk membangun budaya inovasi di sekolah.

Perjalanan tim robotik Madrasia menuju kompetisi tingkat provinsi menjadi bukti bahwa teknologi dapat menjadi ruang belajar yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Di balik sebuah robot yang bergerak di lintasan, terdapat proses panjang berupa diskusi, kegagalan, eksperimen, perbaikan, dan kerja sama.

Kini, tim bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar. Robot telah dipersiapkan, program terus disempurnakan, dan para siswa semakin percaya diri.

Mereka membawa satu semangat yang sama menuju tingkat provinsi: bukan sekadar membuat robot bergerak, tetapi membuktikan bahwa ide, ketekunan, dan kerja sama dapat mengubah sebuah rancangan sederhana menjadi inovasi yang mampu bersaing.

Avatar ThemeBagus Studio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *